![]() |
| Konversi lahan pertanian, Menyebabkan berkurangnya area resapan air di kawasan pedesaan. |
Sumur Resapan Pedesaan Kolektif
- Cek Dam Sederhana
Sistem
cek dam sederhana dilakukan dengan cara membendung lembah dengan tanah.
Sistem tersebut dapat juga dimanfaatkan untuk persedian air permukaan
pada musim kemarau. Cara ini banyak dikembangkan di daerah Nusa Tenggara
yang memiliki musim kering dan lahan yang bergelombang.
![]() |
| Gambar 1. Kolam resapan kolektif dengan membendung lembah. |
Cara
ini cocok diterapkan pada lahan-lahan yang bergelombang, memiliki
lembah-lembah yang dalam, dan mudah untuk dibendung serta air dari
pemukiman dapat disalurkan ke lembah yang akan dibendung.
Bendungan
dibuat dari tanah yang terlebih dahulu dibuat tumpukan balok kayu yang
tidak mudah lapuk, seperti ulin, pohon kelapa, pohon enau, atau jati,
dan dipatok dengan patok kayu yang dapat tumbuh berakar dan bertunas,
seperti bambu haur, galam, angsana, gamal, atau dadap.
![]() |
| Gambar 2. Konstruksi bendungan sederhana. |
Agar
air hujan dapat masuk ke dalam kolam resapan, maka dari pemukiman atau
lahan lainnya dibuat parit-parit yang mengarah ke kolam resapan. Dengan
demikian, air hujan dapat terkumpul dalam kolam dan dapat meresap ke
dalam tanah.
- Kolam Resapan di Hutan Lindung atau Hutan Desa
Untuk
daerah-daerah datar, dapat dibuat kolam resapan di lokasi yang rendah
tempat air mengalir dan berkumpul. Model sumur resapan ini dapat dibuat
di lahan fasilitas umum atau di hutan lindung yang sekaligus dapat
dikembangkan dengan konsep hutan desa.
![]() |
| Gambar 3. Kolam resapan kolektif berpadu dengan hutan lindung desa |
Dinding
kolam resapan dapat diberi dinding dari ayaman bambu atau dengan
patok-patok bambu (bambu haur atau bambu kuning) yang dapat tumbuh.
Model dari kolam resapan dapat dilihat pada Gambar 3.
Sumur Resapan Pedesaan Terpadu dengan Pertanian
Sumur
resapan air hujan untuk pedesaan dapat pula dipadukan dengan sistem
usaha tani dengan menerapkan konsep usaha tani konservasi. Sistem ini
relatif mudah serta tidak perlu mengeluarkan dana dan tenaga secara
khusus.
Penerapan sistem ini disamping sebagai
upaya konservasi air tanah dan pencegahan banjir, juga dapat
meningkatkan produktivitas pertanian dan menekan laju erosi. Adapun
model sumur resapan yang dipadukan dengan usaha tani, yaitu guludan
bersekat, guludan berorak, dan parit bedengan bersekat.
- Guludan Bersekat
Guludan
bersekat dibuat dengan cara meninggikan tanah membentuk guludan yang
tingginya 30-50 cm dengan arah guludan memotong lereng. Pada
parit-parit, guludan tersebut dibuat sekat-sekat dari guludan tanah
kecil. Guludan utama ditanami tanaman produktif. Dengan cara demikian
air hujan akan tertahan dalam lembah-lembah guludan yang akhirnya dapat
meresap ke dalam tanah. Model dari guludan bersekat dapat dilihat pada
Gambar 4.
![]() |
| Gambar 4. Model guludan bersekat sebagai sumur resapan. |
- Guludan Berorak
Guludan
berorak prinsipnya sama dengan guludan bersekat. Cara pembuatannya sama
dengan guludan yang memotong lereng, ketinggian guludan antara 30-50
cm. Pada Iembah, di antara guludan dibuat galian berupa rorak-rorak yang
ukuranya 30-50 cm serta jarak antara lubang 5-10 m. Model dari guludan
berorak dapat dilihat pada Gambar 5.
![]() |
| Gambar 5. Model guludan berorak sebagai sumur resapan. |
- Parit Bedengan Bersekat
Parit
di lahan pertanian juga dapat dijadikan sumur atau tempat resapan air
hujan. Agar dapat berfungsi juga untuk meresapkan air hujan, harus
dibuat sekat-sekat pada parit-parit tersebut. Dengan demikian, air hujan
dapat ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Model ini cocok
diterapkan pada lahan kering.

a). pada lahan datar.

b). pada lahan miring.
Gambar 6. Model parit bersekat.
Pada
lahan miring dibuat teras dengan parit bersekat di bawahnya. Kedalaman
parit adalah 40-50 cm, sedangkan sekatnya dibuat dengan ketinggian 20-30
cm sehingga air tetap dapat melimpas bila kebanyakan tanpa mengganggu
tanaman.
sumber : http://civiliana.blogspot.com/






Tidak ada komentar:
Posting Komentar